“Kemampuan beradaptasi adalah salah satu ciri makhluk hidup” Saya membaca kalimat itu di buku IPA kelas 3 sekitar 20 tahun yang lalu. Adaptasi adalah sesuatu yang secara sadar atau tidak sadar dilalui oleh proses belajar sedangkan kemampuan belajar adalah kapasitas alami manusia untuk bertahan hidup, dan kami sepakat bahwa 2020 adalah salah satu bukti terbesar dari kemampuan beradaptasi manusia modern.

Rekomendasi Swab Test Jakarta

Kita dipaksa untuk beradaptasi, menghadapi, dan berkembang dalam kerangka waktu yang penuh ketidakpastian dan risiko yang sulit diukur. Munculnya krisis dan pola hidup baru merupakan “new normal” yang mencakup percepatan proses transformasi dari bentuk konvensional ke bentuk digital. Bahkan percepatan transformasi digital diprediksi akan menjadi strategi rencana pemulihan ekonomi bangsa.

Sayangnya, proses transformasi digital seringkali terasa “menyakitkan” karena kita hanya fokus pada transformasi teknologi. Faktanya, efisiensi dan efektivitas digitalisasi tidak lepas dari kolaborasi dan integrasi antara proses dan orang-orangnya. Manusia tidak hanya sekedar menerjemahkan pengetahuannya. Teknologi pintar membutuhkan “pengguna pintar”

Kembali ke proses adaptasi, pandemi Covid-19 menuntut kita untuk beradaptasi dan tetap berpegang pada segala kemungkinan dan potensi yang kita miliki. Disrupsi yang sudah ada dan terkendali, kini semakin terasa nyata dan dekat, terutama dalam perilaku terhadap kanal digital dan proses digitalisasi. Kita dipaksa untuk menggunakan media digital untuk terhubung dalam setiap aspek kehidupan. Dan kami secara sadar merasakan perubahan signifikan dari ketergantungan kami pada media digital. Birokrasi dan legalitas bukan lagi halangan untuk mewujudkan ekosistem paperless & contactless, tidak setengah-setengah, bukan hanya on-premise. Akhirnya, integrasi bukan hanya penutup.

Faktor utama dari perubahan besar-besaran ini adalah cara kita berkomunikasi secara aman untuk menghindari penyebaran virus, seperti menghindari keramaian atau pertemuan tatap muka dan menggantinya dengan pertemuan online/media sosial. Tingkat penggunaan media digital juga meluas lintas generasi. Komunitas bisa saling terhubung meski dalam keadaan lockdown. Intinya kita akan lebih terbuka dengan teknologi yang bisa menjadi enabler kapan pun kita membutuhkannya.

Fenomena ini disebut sebagai amplifikasi, dimana respon merupakan replikasi dari sesuatu yang tidak dapat dilakukan di dunia nyata tetapi dapat dilakukan dengan bantuan media digital (IRL to URL) pada perilaku atau motivasi yang sudah ada — Kami Apakah Sosial?

Media digital memainkan peran utama dalam cara kita mendapatkan informasi. We Are Social mengungkapkan bahwa 7,7 juta jam video kursus pembelajaran di LinkedIn ditonton pada April 2020, hampir 3 kali lipat jumlah jam ditonton pada Februari 2020 (sebelum pandemi). Ketersediaan platform dan kesadaran akan proses pembelajaran perlahan membuat beberapa pakar atau praktisi yang sebelumnya tidak terjun ke media sosial, kini membuat thread, komunitas online, Q n A, memulai vlog, tutorial, dan lain-lain.

Pembelajaran online bukanlah media baru, namun kini akses pembelajaran online dilakukan dengan alasan baru. Beberapa termotivasi untuk melawan kebosanan dan ingin menemukan tujuan, sementara yang lain hanya cemas tentang pekerjaan mereka dan merasa harus menemukan keterampilan baru untuk bertahan hidup.

Momen ini membuat orang melakukan evaluasi terhadap prospek dan penilaian ulang terhadap apa yang telah dikuasai. Pergeseran persepsi tentang platform sosial yang menjadi sumber pendidikan, seperti Youtube, LinkedIn, Instagram, bahkan Tik Tok, bisa dimaklumi. Pergeseran dari koneksi pasif ke koneksi sadar. Orang secara sadar mengetahui kemampuan apa yang dibutuhkan.

Adaptasi dengan belajar merupakan hal mendasar yang sejalan dengan motivasi, bakat, dan juga keterbukaan terhadap teknologi. Harapan belajar melalui media digital adalah setiap individu dapat mengidentifikasi dan memprediksi kebutuhan belajarnya sendiri. Selanjutnya, pada revolusi industri 4.0, dimana industri yang didominasi oleh kecerdasan buatan (AI) dinilai mampu memenuhi harapan tersebut.

Ketika AI memenuhi harapan ini, ada evolusi. Evolusi ini disebut sebagai Learning 5.0 atau Intelligent Learning. Data individu seperti informasi tentang curriculum vitae (CV), riwayat pembelajaran, riwayat penilaian, media sosial, umpan balik, riwayat kinerja, lokasi, dan sebagainya akan diproses oleh mesin menjadi informasi yang relevan untuk kebutuhan masyarakat atau organisasi. Proses pembelajaran dalam ekosistem Intelligent Learning tidak lagi bersifat preskriptif (memperbaiki atau menutup kesenjangan) tetapi akan bersifat prediktif (meningkatkan atau re-skill).

Swab Test Jakarta yang nyaman

Kita mungkin belum sepenuhnya sampai pada Intelligent Learning, namun keterbukaan masyarakat terhadap teknologi dan adaptasi di masa pandemi Covid-19, perlahan tapi pasti akan membuat kita terbiasa dengan perubahan dan mengatasi hambatan pola pikir. Perubahan ini merupakan bentuk percepatan evolusi alam, sekaligus menjadi bukti bahwa krisis dapat menjadi katalisator perubahan.